Cari

Arsip

Bertanggungjawab Terhadap Pilihan

Januari 3rd, 2012 by agungdy

Beberapa kali saya mengalami dialog dengan mahasiswa semacam berikut ini.

“Maaf mas, saya belum bisa mengijinkan anda untuk ikut pendadaran. Naskah anda masih harus diperbaiki secara cukup signifikan.”

“Oh..apakah sama sekali tidak ada kebijaksanaan, pak? Besok pagi adalah batas terakhir pengumpulan naskah…”

“Lha kok baru ketemu saya sekarang??”

“Maaf pak…bukannya saya malas, tapi saya benar-benar terhimpit. Saya punya problem yang harus saya selesaikan, sehingga mengganggu penulisan naskah. Baru tadi malam saya bisa menyelesaikan naskah saya.”

Problem yang dia ceritakan bisa macam-macam, dari problem keterbatasan finansial, kewajiban kantor/kerja, kewajiban domestik dalam keluarga, problem dengan lingkungan, sampai ketidakmampuan menahan rindu pada keluarga yang ditinggalkan di rumah.

Lepas dari benar tidaknya alasan yang disampaikan mahasiswa tersebut, saya ingin menyoroti satu hal. Alasan yang disampaikan mahasiswa di atas menunjukkan bahwa ia mengalami dua (atau lebih) pilihan dalam menentukan prioritas, mana yang akan dikerjakan lebih dulu: menyelesaikan naskah dengan baik dan tepat waktu, atau menyelesaikan problemnya. Sering kali situasi seperti ini bak makan buah simalakama. Sepertinya tidak ada solusi yang menguntungkan.

Tiap orang bisa punya pilihannya sendiri, dengan alasannya masing-masing. Tapi satu hal yang jelas: tidak mungkin untuk mendapatkan keduanya sekaligus. Memilih itu memihak ke salah satu, tidak bisa merangkul semuanya. Jadi pilihlah secara bijaksana. Gunakan pertimbangan yang matang, perhitungkan semua aspek, lalu tetapkan pilihan dengan mantap.

Begitu pilihan dibuat, konsekuenlah dengan itu. Jangan meminta pihak lain untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Saya lanjutkan dialog di atas.

“Maaf mas, saya tidak bisa mengijinkan anda untuk ikut pendadaran periode ini, dan saya juga tidak bisa memperpanjang waktu pengumpulan naskah.”

“Apakah benar-benar tidak bisa pak? Mohon kebijaksanaan bapak untuk kali ini…”

Pada titik ini, si mahasiswa sudah mulai menginginkan untuk mendapatkan keduanya. Ia ingin mengatasi problemnya, sekaligus ingin bisa ikut pendadaran. Yang tidak ia ketahui adalah pada saat yang sama, ia telah menempatkan saya pada posisi yang sulit. Jika saya tolak permohonannya, saya akan merasa bersalah. Jika saya mengabulkan permohonannya karena merasa tidak tega, problemnya akan selesai, tapi saya menciptakan problem baru: keputusan itu akan menjadi preseden yang bisa diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa lain dengan kasus yang sejenis. Dan demi alasan fairness, maka saya harus mengabulkan juga keinginan mereka. Dan jika ini terjadi, maka rusaklah sistem yang sudah dibuat karena pengecualian-pengecualian yang tidak pada tempatnya.

Saya tidak sedang curcol :-). Saya hanya ingin mahasiswa belajar bisa memilih dengan baik, bertanggung jawab dengan pilihannya, dan tidak membuat orang lain mengalami kesulitan karena keinginannya untuk mendapatkan semuanya. Kemampuan ini penting dipelajari dan dilatih, karena dalam kehidupan kita tidak bisa lepas dari situasi-situasi seperti di atas. Di kantor, di sekolah, di kehidupan keluarga, …

Memilih salah satu dan mengorbankan lainnya memang berat. Pasti ada penyesalan, tetapi itulah hidup. Kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan pada saat bersamaan. Mampu memilih dengan baik dan konsekuen dengan pilihannya menunjukkan kedewasaan seseorang. Dan yakinlah bahwa kalau kita yakin dan konsekuen dengan pilihan kita, pasti ada hikmah di belakangnya. Hikmah dan pelajaran yang tersembunyi ini bisa jadi jauh lebih berharga daripada mendapatkan semua hal yang kita inginkan. Apa yang kita inginkan belum tentu terbaik bagi kita. Dan Tuhan terkadang bekerja dengan cara yang misterius, termasuk dalam mendidik kita…

dari pak LEN……


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • E-mail this story to a friend!

Posted in Motivasi |



Leave a Reply